Spiritual Islami – Membuka Pintu Hijab Menuju Ma’rifat

Motivasiana.com – Hallo sahabats…..jumpa lagi bersama saya dalam rangka berbagi wawasan kebaikan menuju kebahagian dan kedamaian hidup. Kali ini saya akan sharing kepada anda semua tentang membuka pintu hijab untuk menuju makrifat. Materi ini dikalangan para pencari spritualitas agak dalam dan agak rumit untuk dijelaskan. Namun saya akan berusaha membawa anda ke hal yang semudah mungkin dengan bahasa yang agak ringan untuk mudah dipahami.

Terbukanya pintu hijab dan sampai kepada wilayah ma’rifat adalah dambaan para pencari kebenaran sebagai puncak dalam berspritualitas. Sebelum saya lanjutkan anda saya minta kembali mengingat tentang bagian-bagian diri kita ini. Kita ini tersusun atas tiga komponen utama yang jika saya urutkan adalah sebagai berikut; pertama manusia itu terdiri dari jasad yang tersusun dari bahan materi yang kasar. Yang kedua adalah jiwa yang tersusun dari bahan dasar energi dan yang ketiga adalah ruh yang tidak tersusun dari materi maupun energi.

Sebelumnya saya sering menulis tentang ruh…..dia adalah salah satu unsur ketuhanan. Ruh ini adalah utusan Tuhan yang ada dalam diri kita untuk mengajari kita tentang kehidupan. Ruh membawa sifat-sifat Tuhan. Ruh adalah makhluk Tuhan yang mutlak suci. Dia tak membutuhkan materi maupun energi. Justru dia adalah unsur yang menghidupi materi dan energi atau jasad dan jiwa yang tadinga benda mati menjadi hidup. Ruh adalah sumber kesadaran universal.

Jika dilihat dari alam kesadaran kita memiliki 3 kesadaran yaitu alam sadar, alam bawah sadar dan alam tak sadar. Alam sadar adalah kerja fisik berdasarkan panca indra kita, alam bawah sadar adalah jiwa kita yang merekam tentang gejolak jiwa seseorang, dan alam tak sadar adalah alam ruh kita. Sehinnga pintu/hijab kita untuk mencapai ma’rifat adalah jiwa kita.

Jika kita berjalan ke luar alam semesta atau saya sering menyebutnya outer cosmos kita akan mengarungi tujuh langit secara dimensional. Dan jika berjalan ke dalam diri kita akan melewati tingkatan-tingkatan langit dalam diri terdiri dari tujuh lapis pula. Baik perjalanan ke luar maupun ke dalam sama-sama akan bertemu dengan sosok yang tak tergambarkan zat yang meliputi alam semesta Tuhan Semesta Alam….Allah Subhanahu Wata’ala….

Jadi yang menjadi hijab kita untuk bertemu dengan Tuhan yang Maha Esa adalah ‘jiwa’ kita sendiri…..jiwa berada ditengah yang bisa membuka dan menutup seiring dengan kejernihan jiwa seseorang. Jiwa adalah hijab atau pembatas antrara jasad dan ruh yang ada dalam diri kita. Sebelum saya lanjut saya akan memisalkan diri kita ini dengan sebuah analogi yang mungkin akan memudahkan membahas tentang ma’rifat ini.

Bayangkanlah ada tiga buah bola kaca …..bola kaca yang paling dalam berada di pusat, bola kaca kedua yang agak besar membungkus bola kaca pertama, dan bola kaca ketiga yang lebih besar lagi yang membungkus bola ke dua dan berada paling luar. Bola pertama yang paling kecil yang paling dalam terbungkus dengan kedua bola yang ada diluarnya.

Bola pertama adalah ruh yang memancarkan cahaya putih terang yang berasal dari cahaya Tuhan, dia adala “pendaran cahaya Tuhan”. Bola kaca kedua adalah jiwa kita dan bola kaca ketiga adalah jasad kita. Maka bagaimanakah agar pendaran cahaya ruh itu sampai kepada bola kaca ketiga…? Ya bola kedua atau ruh kita harus bersih, suci dan bening alias trasparan. Jika bola kedua kotor maka seterang apapun bola dalam kaca akan tidak sampai ke pada bola ketiga.

Jadi inti terbukanya hijab kita untuk makrifat adalah jiwa kita. Jika jiwa kita buram maka intensitas cahaya dari dalam akan terhalang. Bahkan jika jiwa kita sangat kotor maka cahaya dari dalam tidak akan menyebar keluar ke seluruh penjuru semesta. Sehinnga seolah ke tiga bola itu tak bercahaya sama sekali….padahal didalam ada cahaya putih yang terang benderang. Sebaliknya jika jiwa itu bersih, bening dan trasparan…maka cahaya didalam akan bertemu dengan cahaya diluar…..”cahaya bertemu cahaya”…..oooh terangnya…….

Maka untuk mencapai makrifat atau terbukanya hijab itu kita harus membersihkan bola kaca yang ditengah atau jiwa kita. Jika jiwa kita sucikan, kita rawat kesuciannya, akan memancarkan cahaya Ilahi keluar yang sangat cerah sebagai penerang alam semesta, pancarannya sangat luar biasa dahsyat yang akan menjadi kebahagiaan bagi kita dan semesta.

Lantas bagaimanakah caranya untuk merawat dan membersihkan jiwa kita itu…..? secara umum kita diminta untuk memberishkan dosa-dosa kita dan selalu berbuat kebajikan. Namun secara khusus ada bebarapa cara yang dapat kita lakukan diantaranya adalah:

Pertama, adalah dengan bertakwa, orang yang bertakwa adalah orang yang “punya control diri” dalam setiap tindakanya. Untuk sifat-sifat bertakwa ini bagi yang Islam bisa membuka ayat-ayat Alquran yang bercerita tentang ketakwaan….

Yang kedua, adalah orang yang selalu sadara Allah….apa maksudnya sadar Allah itu…? yaitu orang yang selalu mengaitkan segala jenis peristiwa yang terjadi kepada Allah dari setiap urusan yang ditemuinya. Ada masalah ringan ataupun berat selalu dikaitkan kepada Allah…ada musibah sabar…..mendapat kebaikan bersyukur. Pokoknya semua itu baik dan buruk itu datangnya dari Allah swt. Walaupun peristiwa itu tidak baik atau buruk….dia berkeyakinan semua itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Tidak akan menyalahkan siapa-siapa terlebih menyalahkan Allah.

Yang ketiga, selalu bertaubat….ya…. pertaubatan yang dilakukan dengan penuh iklas, tulus dan murni adalah cara untuk memberihkan jiwanya. Tidak ada kesombongan dalam dirinya. Inilah yang akan mengelupaskan kerak-kerak jiwa kita menjadi jiwa yang bersih dan bercahaya. Dia menyadari penuh bahwa kejadian jelek yang terjadi dalam dirinya adalah akibat kelalaian dan kesalahan diri….mengakui diri tidak pernah menyalahkan orang lain.

Yang keempat, adalah orang yang memiliki sifat sifat kebaikan dalam dirinya atau dalam penjelasan David R, Hawkins adalah orang-orang yang berada pada level Power bukan Force. Memilki sifat yang netral. Mencintai dengan ketulusan, berempati, mempunyai sifat-sifat yang universal bukan individualistic.

Yang kelima, mendapatkan “Izin” dari Allah SWT…..ya seberapapun usaha kita untuk membuka pintu ma’rifat itu jika tidak ada izin dari Allah tidak akan pernah bisa…..bagaimana mendapatkan izin dari Allah itu…? kuncinya adalah “kepasrahan” total kepada Allah semakin pasrah semakin mudah untuk memancing kehendak Allah, semakin ngotot untuk membuka…maka akan semakin susah…

Begitulah sahabat cara-cara untuk membuka tabir ma’rifat itu….bermakrifat itu adalah sebuah proses perjalan panjang bukan instan dan berproses secara terus-menerus. Kunci dari pembahasan saya untuk membuka ma’rifat itu adalah terletak pada ‘kesadaran” kita. Anda mungkin sudah membaca postingan-postingan saya sebelum ini untuk mencapai kesadaran yang tinggi itu tidak lain adalah berdzikir dan bermeditasi. Karena keduanya adalah melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran.

Dari uraian diatas mungkin anda sudah bisa membedakan antara satu orang dengan yang lainnya….apakah dia dekat atau jauh dengan Tuhan itu terletak pada kesucian jiwannya. Dari sini juga anda bisa membedakan antara para Nabi dengan kita….bedanya hanya tingkat kebersihan jiwa. Nabi Muhammad dengan kita itu sama….terbuat dari bahan dasar yang sama…jasad, jiwa dan ruh…..itulah mengapa dalam Alquran Nabi Muhammad saw dalam Al Quran adalah juga manusia biasa.

Namun manuasia biasa yang luar biasa…..jiwanya jernih, bening dan bercahaya….mengapa? karena jiwanya memancarkan sifat-sifat ruh yang ada pada dirinya…..ruh adalah pendaran cahaya-Nya ….maka sifat-sifat yang ditampilkan akan sesuai dengan sifat-sifat Tuhan. Sifat ruh yang menembus jiwanya akan terpancar menembus jasadnya dan menerangi semesta raya….rahmatan lil’alamin.

Apakah Manusia Juga bisa…? Harusnya bisa…anda pernah dengar Khidir….yaa..dia adalah orang yang sudah sampai pada ma’rifat. Anda juga tau siapa yang memindahkan istana Ratu Bilqis pada Zaman Nabi Sulaiman….? Dia juga dari kalangan manusia. Contoh lainnya adalah para Wali-wali Allah baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Jadi badan kita sama dengan badan Nabi…..ruh kita juga sama satu ruh…..yang membedakan adalah tingkat kesucian jiwa kita. Ketika jiwa sudah demikian jernih maka cahaya yang didalam (inner cosmos) akan bertemu dengan cahaya yang diluar(outer cosmos). Tak ada lagi pertentangan antara pikiran, ucapan dan perasaan…semuanya satu kata…tunggal….

Inilah yang dalam Alquran disebut sebagai orang muslimun…orang yang berserah diri kepada Allah….atau atau qalbun salim….orang yang pasrah setulus-tulusnya. Disinilah manusia dikatakan lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Dan para jin, syetan, iblis tidak dapat membelokan dan menembus orang-orang pilihan ini. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahaim as dan Nabi Muhammad saw.

Ketika jiwa semakin jernih, maka dia akan meanpilkan sifatu-sifat Tuhan dalam ucapan, pikiran, perasaan dan perbuatannya secara otomatis….tidak direkayasa dan dibuat-buat….murni dengan ketulusan. Ruh inilah satu-satunya jalan bagi jiwa untuk sampai kepada Tuhan….karena ruh kita ini adalah yang paling dekat dengan kita….ruh ini adalah wasilah atau jalan kita menuju ma’rifat kepada Tuhan.

Maka terbukannya hijab atau ma’rifatulah adalah saat-saat kualitas jiwa kita mendekati atau kualitasnya dengan kualitas ruh. Seorang ‘hamba’ yang sudah mencapai kualitas ruhnya. Di saat-saat inilah pandanganya menjadi terang…pengetahuannya mengalir dengan tajam dan diperlihatkan dengan tanda-tanda kebesaran Tuhannya walaupun itu rahasia bagi manusia lain. Disinalah malaikat akan melayani sepenuhnya kebutuhannya, dan menjadi tentara baginya.
Inilah pemahaman yang memakai konsep non linier yang sudah dipraktekan oleh banyak kalangan Islam maupun non Islam lewat praktek Dzikir dan meditasi yang akan melahirkan ilmu pengetahuan yang deras karena yang mengajari adalah ruhnya….belajar dari dalam diri atas izin Tuhan Allah swt. Ini pula yang digagas oleh David R. Hawkins dalam buku-bukunya diantaranya Power Vs Force dan Recovery Healing.

Apakah saya sudah mencapai ma’rifat sehingga saya berani menulis artikel seperti ini….? Saya juga masih seperti anda sahabats…..jiwa saya belum sebenig ruh saya….saya masih suka marah…kesal dll namun kualitasnya rendah dan mudah menyadarinya. Saya dulu orangnya egois,Ingin menang sendiri, pendendam, dan sejenisnya. Namun setidaknya saya sudah merasakan ‘manisnya madu kehidupan”.
Saya hanya mengajak kepada yang mau saja untuk sama-sama berjalan kedalam menemui harta dan permata kita sendiri yang tiada habisnya….sehingga kita dekat dengan Sang Sumber Kehidupan untuk merasakan kedahsyatan dan keagungan Tuhan…sebagai bentuk rasa syukur kita kepadaNya. Ternyata Tuhan sungguh sangat sayang terhadap manusia, dengan membekali kita intan permata dalam diri kita.

Dalam Tabel David R. Hawkins orang-orang yang sudah memiliki sifat-sifat seperti ini adalah yang sudah masuk pada ‘Zona rasa’a atau pure consciousness yang sudah begitu dekat dengan sumber kebahagiaan hidup. Sumber kebahagiaan, sumber kedamaian, sumber ilmu pengetahuan dan keberlimpahan. Bagi teman-teman yang ingin belajar lebih jauh untuk sampai pada zona rasa atau makrifat secara sains modern anda bisa bergabung dengan Komunitas Power Vs Force Indonesia dengan menghubungi WA 085241606323. Semoga bermanfaat!
~salam~

Oleh : Sumijan Tangkas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *